![]() |
6.340 Orang Miskin Baru
Dipengaruhi Musibah dan UMK Naik
|
Selasa, 11 Februari 2014 - 08:58:51
|
| |
Balikpapan
|
| |
BALIKPAPAN - Perekonomian Balikpapan memang
berkembang pesat. Namun, ini ternyata tak berpengaruh signifikan dalam
menekan angka kemiskinan. Terbukti, jumlah orang miskin di Kota Minyak
terus bertambah. Berdasarkan pendataan yang dilakukan Tim Sembilan,
orang miskin di kota ini pada periode 2013-2014 sebanyak 23.700 jiwa.
Terdiri dari 7.872 Kepala Keluarga (KK). Jumlah itu meningkat 26,75
persen dari hasil pendataan periode 2011-2012 yang mana terdapat 17.360
orang miskin, terdiri dari 6.013 KK. Itu artinya orang miskin bertambah
sebanyak 6.340 orang.
Sekadar diketahui, Tim Sembilan terdiri dari Lurah, Kasi Kessos Setkot
Balikpapan, Babinsa, Babinkamtibmas, Staf Kelurahan, Puskesmas, Badan
Pusat Statistik (BPS), PSM (Peduli Sosial Masyarakat) dan Petugas
Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).
Kepala Bidang Sosial dan Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Balikpapan Murni Supeno mengatakan, "Beberapa yang menjadi penyebab meningkatnya angka kemiskinan, di antaranya terjadinya musibah kebakaran, adanya penyakit berat yang butuh biaya berobat yang besar dan berkelanjutan. Selain itu kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) sudah pasti secara otomatis menambah daftar kemiskinan,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan UMK yang begitu besar pada tahun 2012-2013 punya andil yang cukup besar menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga imbasnya bertambahnya angka kemiskinan. “Meskipun kenaikan UMK ini bukan satu-satunya faktor penyebab,” tambahnya.
Kriteria penetapan keluarga miskin dalam SK Wali Kota Nomor 188.45-70/2013, di antaranya sudah menjadi warga Balikpapan selama 3 tahun. Selain itu tidak memiliki aset ekonomis yang mudah dijual, seperti emas, dan tanah, pendidikan tertinggi kepala keluarga dan anggota keluarga lainnya adalah tidak bersekolah atau tidak tamat SMP atau hanya lulusan SD.
Selain itu tempat tinggal yang tak memenuhi syarat karena luas lantai bangunan kurang dari 8 meter persegi per anggota keluarga, lantai terbuat dari semen sederhana, bambu atau kayu murahan, fasilitas mandi cuci kakus (MCK) masih bergabung dengan rumah lain, sumber penerangan bukan listrik, dan masih ada beberapa kriteria lainnya.
Pemkot sendiri akan lebih mengoptimalkan program-program penanggulangan kemiskinan. Salah satunya program pelatihan kerja yang selama ini dianggap masih kurang efektif. Sebab, banyak anak dari keluarga miskin yang tidak mau ikut pelatihan karena takut nantinya ketika sudah mendapat pekerjaan akan dikeluarkan dari kategori keluarga miskin.
Tak bisa dimungkiri, berbagai bantuan sebagai stimultan terhadap keluarga miskin mengucur dari kas daerah maupun APBN. Seperti program raskin (beras miskin) untuk mengurangi biaya hidup, sekolah gratis, dan lain-lain.
“Itu yang nanti kami optimalkan supaya keluarga miskin yang punya anak harus ikut pelatihan kerja. Karena kalau sudah dapat kerja dan mampu secara finansial saya kira secara kesadaran harus mengundurkan diri dari kategori miskin tanpa kami keluarkan,” imbuhnya.
Pemkot, tambahnya, juga akan membentuk forum Corporate Social Responsibility (CSR) yang nantinya juga akan fokus untuk memberikan program-program penanggulangan kemiskinan.
“Saat ini forum CSR tinggal menunggu SK Wali Kota untuk pembentukannya, kami belum tahu berapa perusahaan yang akan terlibat,” jelasnya. (*/ani/*rsh/far/k7)
sumber: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/58479/6.340-orang-miskin-baru.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar